Archive for the 'Sosial' Category

Menyerang SBY

bayu dardias January 12th, 2010

Kedaulatan Rakyat-Analisis-120110

Jika diperhatikan dengan seksama, dalam bulan-bulan belakangan ini, muncul serangan-serangan telak yang ditujukan kepada Presiden SBY. Ibarat serial silat SH Mintardja, penyerang mengeluarkan jurus-jurus dalam serangan sporadis. SBY pun dipaksa berkelit dengan jurus jitu lainnya, dibantu seluruh pendukung padepokan. Perang jurus ini tak akan berhenti  sebelum sang pendekar yang sedang memimpin dunia persilatan jatuh.

Serangan lebih gencar dilakukan terutama setelah SBY terpilih sebagai Presiden untuk yang kedua kalinya. Serangan pertama diungkapkan presiden sendiri dengan menunjukkan foto dirinya yang menjadi sasaran tembak kelompok teroris radikal Islam pada pertengahan Juli. Sampai sekarang, publik masih bertanya-tanya tentang motif dan strategic issues yang menjadi latar belakangnya. Semuanya tetap menjadi rahasia Densus 88.

Serangan berikutnya lebih mengarah kepada upaya untuk menyerang SBY secara non-fisik, yang jika berhasil, dampaknya sangat destruktif untuk struktur politik yang ada. Sasarannya adalah kepribadian dan karakter SBY baik sebagai pribadi maupun dalam bentuk kebijakan-kebijakannya. Tujuannya jelas, menciptakan distrust di lingkungan dalam SBY dan juga masyarakat terhadap pemerintahan.

Menariknya, serangan yang diarahkan kepada SBY ini tidak ditunjukkan dalam bentuk vulgar dan langsung, tetapi bermain cantik dengan menggoyang orang-orang dekat Presiden. Jika pilar-pilarnya telah rapuh, bangunan akan mudah runtuh. Mari kita urai serangan ini lebih mendalam.

Pada saat puncak konflik KPK-Polri, SBY diuji untuk mampu bertindak cepat dan gesit mengatasi isu ini. Serangan muncul dengan membangun citra SBY yang dianggap lamban dalam bersikap ditengah dukungan Chandra-Bibit berlangsung 24 jam lewat facebook. SBY jitu dalam mengelak serangan mematikan ini dengan membentuk Tim Delapan. Walaupun namanya sempat dicatut dalam rekaman Anggodo, secara umum publik puas atas respon SBY terhadap isu ini.

Serangan ketiga ditujukan khusus untuk dua figur penopang pemerintahan SBY, Boediono dan Sri Mulyani lewat kasus Century. Gabungan dua cendikiawan ekonomi dari dua universitas terbaik di Indonesia, UGM dan UI, menjadi back up penting Menko Ekuin Hatta Rajasa. Cara termudah menghancurkan pemerintahan SBY adalah menjatuhkan dua pilar kebijakan ekonominya. Dengan kondisi ekonomi terpuruk, presiden sangat mudah jatuh. Pengalaman 1998 jelas menunjukkan hal itu. Continue Reading »

FISIPOL bukan FISIP

bayu dardias October 22nd, 2009

Mungkin sudah ribuan kali saya menemukan kesalahan yang dilakukan media.  Bahkan harian sekaliber KOMPAS  (221009) pun salah menuliskan riwayat hidup Muhaimin dan Andi Mallarangeng yang ditulis berasal dari  FISIP UGM. Kesalahannya sebenarnya sederhana, tetapi sungguh fatal, paling tidak untuk saya yang berada di dalamnya. Kesalahannya terletak pada penulisan FISIP instead of FISIPOL UGM !!!

FISIPOL UGM yang berdiri sejak 1955 merupakan kepandekan  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hal ini berbeda dengan FISIP yang menjadi trade mark universitas lain. Mengapa FISIPOL, bukankah tidak efisien, mendingan FISIP, ngirit dua huruf.

Begini ceritanya…

Di FISIPOL UGM terdapat enam Jurusan, Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Jurusan Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan (dulu jurusan Ilmu Pemerintahan dan dulu sekali Jurusan Ilmu Usaha Negara), Jurusan Sosiologi dan Jurusan Pembangunan Sosial (dulu Sosiatri). Nah dari enam Jurusan tersebut, empat  memiliki gelar kelulusan S.IP (Sarjana Ilmu Politik) dan dua memiliki gelar kelulusan S.Sos (Sarjana Sosial). Artinya wajar jika POLitiknya lebih ditekankan daripada Sosialnya. Mengingat kalau keduanya dipanjangkan terkesan wagu, misalnya menjadi FISOIPOL. Gak pantas sama sekali.

Selain itu, kata FISIP terkesan berupa singkatan yang belum selesai. Berbeda dengan FISIPOL, sepertinya mantep dan POL, dan tuntas sampai ujung.  Kalau gak percaya coba anda ucapkan. Suku kata POL ini penting karena membuat hati jadi lega. Ibaratnya, kalau FISIPOL ini tuntas sampai puncak, sedangkan FISIP baru pemanasan doang hehehe… hush!!!

Ketika singkatannya sedikit dipanjangkan, walaupun kurang nyaman, menjadi Fakultas Isipol, sejajar dengan Fakultas Teknik, Fakultas Filsafat dan Fakultas Kedokteran, tetap lebih indah dibanding Fakultas ISIP UGM. Apa boleh buat, nama fakultas kami memang  panjang dari 18 fakultas yang ada di UGM, hanya kalah panjang dari MIPA. Sekalipun nama Fakultas lain dipanjangkan (FK UGM menjadi Fakultas Kedokteran UGM), nama FISIPOL tetap saja disingkat menjadi Fakultas Isipol. Disingkat pun tetap lebih panjang dari nama Fakultas Hukum.

Tapi lebih penting daripada itu sebenarnya adalah karena memang itu namanya. Sejak dulu namanya adalah FISIPOL UGM, jadi mengurangi dua huruf berarti mengganti nama. Coba kalau sampeyan namanya GUNAWAN saya kurangi dua nama menjadi GUNAW gimana, apa sampeyan rela? Belum lagi kolega saya yang namanya NOVA, cuba saya kurangi dua menjadi NO, kan bisa repot dia ketika ada orang tanya “what is your name?” trus dijawab “NO.” Kan dikira nggak mau temenan. Lebih sengsara jika namanya Anjar, coba dibuang dua huruf menjadi Anj , repot lah, dikira misuh.

Jadi sekali lagi nama fakultas saya Fisipol UGM, jangan dikurangi, jangan ditambah-tambah.

Musnahnya Nama Lokal Indonesia

bayu dardias July 6th, 2009

Dari iseng-iseng di semester break kali ini,  ternyata banyak hal menarik dalam proses pemberian nama anak. Teman-teman saya, teman-teman adik dan kakak saya, memberi nama anak mereka dengan nama yang tidak berbahasa Indonesia dan tidak berbahasa daerah. Bahkan dalam lingkup extended family, nama anak-anak didominasi oleh nama dengan bahasa Arab untuk Muslim. Setelah saya cermati, ternyata nama kedua anak saya pun juga bisa dibilang terjangkiti virus ke-Arab-an tersebut. Gejala apakah ini?

Cobalah anda perhatikan nama anak-anak dan balita sampai setidaknya usia sepuluh tahun, terutama dari kelas menengah perkotaan Indonesia. Dominasi nama-nama berbahasa Arab terbukti sangat dominan. Nama perempuan Zahra misalnya, sangat laris belakangan ini, entah sebagai nama depan atau nama belakang. Nama seperti Raihan, untuk laki-laki, juga tidak kurang menarik penggemar.

Sebenarnya, tren nama Arab sudah muncul sejak Islam pertama kali menyebar di Indonesia. Buku sejarah menyebut Islam masuk ke Indonesia sekitar abad 11-12. Beberapa temuan artefak menunjukkan Islam telah datang lebih dulu, sekitar abad 7 (misalnya temuan stempel di bangkai kapal di perairan Cirebon). Sejak ditemukannya makam Fatimah binti Maemun di abad 11 di Gresik, nama-nama Arab menghiasi tren nama di Indonesia. Continue Reading »

Electionist dalam Sistem Presidensial

bayu dardias March 30th, 2009

Banyak pihak memperkirakan angka Golput akan naik pada pemilihan 2009 dengan berbagai alasan, mulai dari kontestasi politik, regulasi hingga kinerja KPU. Faktor yang jarang diperbincangkan tetapi penting berkaitan dengan bosannya pemilih karena terlalu banyaknya pemilihan. Mungkinkah ini menjadi faktor utama tingginya Golput dan bagaimana hubungannya dengan sistem presidensial yang dipakai Indonesia saat ini?

Dalam praktek pemilu di banyak negara, tingkat partisipasi politik dalam pemilu dihitung bukan berdasarkan pada pemilih yang tidak hadir (Golput) tapi dihitung berdasarkan tingkat pemilih yang hadir (voters’ turnout). Munculnya fenomena terbalik di Indonesia disebabkan antitesis atas dominasi Golkar di era 70 an yang tersimbolkan dalam pilihan frasenya: Golput sebagai lawan dari Golkar. Jika di luar negeri pemilu diupayakan untuk meningkatkan jumlah voters’ turnout, di Indonesia pemilu diusahakan untuk menurunkan jumlah Golput.

Tidak dapat dipungkiri, pemilu merupakan elemen terpenting demokrasi. Demokrasi hanya bisa hadir dalam partai politik yang tumbuh bebas yang bertarung dalam pemilu yang jujur (Duverger 1963). Hadirnya institusi pemilu yang mantap juga sangat vital dalam konsolidasi demokrasi. Selain itu, pemilu juga sarana efektif untuk menyalurkan partisipasi politik rakyat dan menjamin terpilihnya elit politik yang sesuai dengan keinginan rakyat. Sejak reformasi, pemilu di Indonesia bisa dikategorikan jujur dan menjadi rujukan kisah sukses terkait dengan konsolidasi demokrasi di negara berkembang.

Continue Reading »

Berhenti Merokok

bayu dardias March 1st, 2009

Menurut data badan kesehatan PBB, WHO 2004, di tahun 2002 lebih dari 750 ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok. Mereka menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun dalam setahun untuk membeli lintingan tembakau dan cengkeh itu. Data demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2008 menunjukkan, 93 persen pecandu rokok adalah orang dewasa, sedangkan di bawah 20 tahun mencapai 7 persen.

(Tempointeraktif.com diakses tanggal 27 February 2009)

Saya mencoba berhenti merokok setelah 12 tahun rutin memasukkan Tar, nikotin, irritants dls ke paru-paru setiap hari. Rokok saya  (dulu) Sampoerna A Mild warna merah, walaupun sering merokok apapun jika kepepet :razz:. Bila tiap batang AMild mengandung 0.1 mg nikotin, setidaknya sudah 8760 mg terhisap selama 12 tahun dengan 20 batang perharinya. Mengapa saya berhenti merokok dan bagaimana caranya?

Pengetahuan tentang bahaya merokok sudah sangat mudah didapatkan saat ini. Hanya dengan sedikit googling, ribuan artikel tentang bahaya rokok sudah muncul. Dari sekian artikel itu, hampir tidak ada tidak ada penelitian ilmiah yang kontra terhadap bahaya rokok bagi kesehatan. Toh, walaupun pengetahuan telah dimiliki, tak mudah untuk berhenti.

Mengapa berhenti merokok?

Pertama, karena saya ingin berhenti. Ini syarat penting yang harus dimiliki.

Kedua, istri saya benci pada rokok. Kebencian ini meningkat drastis ketika di Canberra. Selama ini, rokok saya diimpor dari Sumedang dan harus membayar cukai import $48 per slop. Tapi hal ini bukan perhitungan matematis semata. Jika hanya mengandalkan hitungan ekonomis, tentu keputusan berhenti merokok sudah datang dari dulu. Berhenti merokok adalah simbol bagaimana mencintai istri lebih dalam daripada mencintai diri sendiri:oops:.

Ketiga, merokok di Australia sangat-sangat tidak nyaman. Di Australia, merokok adalah perbuatan yang lebih buruk daripada drinking. Drinking adalah gaya hidup, merokok adalah kecerobohan hidup. Di Indonesia berbeda. Merokok dipandang sebagai ‘kenakalan’ atau keburukan dengan strata terendah. Waktu di kampung Bogeman, saya sering mendengar ibu-ibu yang mendiskripsikan kenakalah pria 20an tahun dengan berkata: ” Wah, dia itu  baik banget lho, merokok saja tidak.” Jadi, jika seseorang tidak merokok, dianggap alim, baik dan berbudi dan jauh dari Molimo. Tidak sedikit juga (baik laki-laki atau perempuan) yang melihat rokok adalah ekspresi kejantanan laki-laki. Pada sisi yang lain, jika perempuan merokok, dianggap sebagai perempuan terjelek ahlaknya. Nah di Australia, mau merokok sangat repot. Disamping lokasinya yang harus minimal 10 meter dari building, keinginan merokok menjadi siksaan berat hampir di setiap musim. Di musim dingin, keinginan merokok dikalahkan oleh dinginnya suhu yang membekukan jari-jari, di musim panas anda tahu sendiri, mana enak merokok kala cuaca 38 derajat?

Bagaimana berhenti merokok?

Continue Reading »

Ponari

bayu dardias February 10th, 2009

Di Jombang, gara-gara menemukan batu berbentuk belut setelah hampir disambar petir, Dukun tiban Ponari (9 tahun) setiap harinya dikunjungi ribuan orang untuk berobat. Pada hari Minggu 8/2/2009, “pasien” Ponari diperkiran mencapai 30 ribu orang. Hitungan ini didasarkan pada kupon antrian yang dibagikan. Sudah ada empat orang meninggal di lokasi. Saya tergelitik untuk menulis kasus Ponari berkaitan dengan mindset bangsa Indonesia saat ini, terutama berkaitan dengan decision making processes. Jangan-jangan, kita sering salah melangkah karena asumsi dan ekspektasi kita yang keliru dalam melihat sebuah fenomena.

Jika anda sering menonton pertandingan sepakbola Liga Indonesia, anda bisa membayangkan betapa banyaknya angka 30 ribu itu. Dua minggu yang lalu, saya menonton acara Inagurasi Australian of the Year yang diisi antara lain oleh pidato PM Kevin Rudd dan pementasan musik, sehari sebelum Australia Day. Penonton diperkirakan 30 ribu orang. Luar biasa banyaknya angka itu. Dalam hajatan terpenting di Australia ini, “hanya” 30 ribu orang yang hadir. Saya tidak bisa membayangkan jika jumlah itu terkumpul setiap hari.

Sekian banyak orang, berkerumun setiap hari di rumah desa milik orang tua Ponari, tentu bukan kategori Berita Tidak Penting seperti yang ada di posting terdahulu. Politik angka menjadi penting, mengingat angka tersebut bukan hasil dari sebuah rekayasa, tapi hadir dalam sebuah keadaan sadar dan tanpa mobilisasi. Hal ini menunjukkan mindset bangsa Indonesia sekarang ini. Khususnya di bidang kesehatan.

Pembangunan bidang kesehatan menjadi isu penting di seluruh Indonesia. Saya berani menjamin, propaganda para Caleg yang pasti selalu didengungkan adalah penyediaan dan pembenahan di sektor kesehatan. Memajukan Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua hal penting yang menjadi tonggak bangsa ini untuk maju. Keduanya merupakan basic public services yang harus dipenuhi pemerintah. Ini asumsi dasar kita orang-orang “rasional”.

Jangan-jangan pengambil kebijakan salah menentukan asumsi. Ternyata, yang dibutuhkan oleh masyarakat Jombang dan Jawa Timur bukanlah modernisasi Puskesmas, dengan menambah unit laboratorium, dokter berpengalaman dan ruangan rawat inap. Yang dibutuhkan ternyata hanya sekedar sebuah sugesti. Kasus Ponari menempeleng pengambil kebijakan khususnya di sektor kesehatan. Masyarakat tidak percaya pada instutusi kesehatan yang dengan susah payah dibangun dengan dana tidak sedikit.

Continue Reading »

Next »

 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up